Sekapur Sirih: Hubungan Antara Kesultanan Buton, Mataram Kuno dan Kerajaan Sunda Kecil Adonara Solor Watan Lema
Penulis: Dr.Rahman Sabon Nama Wareng V Adipati Kapitan Lingga Ratuloli
OPINI - Sebelum rempah melimpah di Maluku, kayu Gaharu dan kayu Cendana telah tersohor sebagai komoditi unggulan negeri Solor Watan Kema. Suatu negeri dibawah Kedaulatan Kerajaan Sunda Kecil/Kerajaan Adonara dan Keresidenan Kerajaan Islam Lamahala. Karena kedua komoditi rempah-rempah itu membawa bangsa Eropa—terutama Portugis mencapai tanah pulau Adonara Keresidenan Kerajaan Islam Lamahala gugusan kepulauan Solor Watan Lema (5 pulau Adonara, Solor, Flores Daratan, Lembata dan pulau Alor) dibawah kekuasaan Kerajaan Adonsra dan Keresidenan kerajaan Islam Lamahala di Flores Timur dan kemudian dikuasainya oleh Kolonialusme Portugis dan Belanda .
Lohayong di pulau Solor dan Lamahala di pulau Adonara adalah Bandar bagi kayu Gaharu dan Kayu Cendana yang mashur itu,sehingga berdatangan saudagar saudagar dari Tiongkok, Arab, Gujarat, Persia datang ke Pulau “Bunga”,dan Nusa Tadon Solor Watan Lema mencapai tanah sejuta gading gajah itu pada paruh kedua Abad ke Xlll .
Wangi kayu Gaharu dan Cendana yang dibawa para saudagar Tiongkok, Persia, Arab, Gujarat itu tercium harumnya sampai ke negeri Eropa sehingga membawa pelaut-pelaut tersohor Portugis berlayar jauh dari Etopa Paska Perjanjian Tordelius di Lisabon untuk berlayar kebelahan dunia di Timur Nusantara.
Kerajaan Buton berada tepat di jalur pelayaran utama ke Timur Nusantara sehingga kelak kemudian menjadikan Buton—Solor Watan Lema khususnya (Pulau Adonara) bertaut sangat dekat serupa temali berpilin menyatu, begitu dekat perhubungan persaudaraan keduanya. Bermula awal dari perkawanan, lalu beranjak ke perkawinan antara Bangsawan Buton dengan Bangsawan Kerajaan Sunda Kecil/Adonara dan Keresiden Kerajaan Islam Lamahala ,dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran/Sunda Besar.
Relasi marital itu melahirkan dua Kapitan Laut yang Paling Tersohor di Kerajaan Sunda Kecil kepulauan Solor Watan Lema yaitu Kapitan Lingga atau Kapitan Ratuloly dan Bholi Malakalu.
Bholi Malakalu adalah Panglima Perang Keresiden Kerajaan Lamahala. Untuk mengenal negeri ini jauh sebuah ciri menunjukan asal negerinya,terletak pada Bumbungan Rumah Kerajaannya terdapat ukir Naga dengan mulut menganga dan lidahnya menjulur keluar, Ciri khas ini jelas merupakan “Naga” merujuk ke Negeri Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara.
Pulau Timor di Timur
Jauh sebelum Armada bantuan kesultanan Buton tiba di Kerajaan Adonara Solor Watan Lema, ada seorang ulama dari Kerajaan Mataram Kuno Syech Abdul Wahid, ulama yang membawa Islam ke Buton telah tinggal di Lamahala Adonara dan menyunting seorang putri Bangsawan Solor Watan Lema ke Buton. Di Kerajaan Buton dinamai Perempuan Solor yang kemudian berubah nama menjadi Wa Ode Solo
Menurut kisah pasangan ini melahirkan tiga perempuan, masing-masing bernama : Nyai Hiba, Nyai Pula, Nyai Didi, dan seorang berkelamin lelaki bernama Sayid Jamaluddin Hussein yang di Buton lebih tersohor dengan sebutan Lebe Pangulu.
Nyai Hiba dinikahi Laelangi, Sultan Buton ke IV dan kemudian menjadi ibu bagi Kaomu Tanailandu, Nyai Pula dinikahi Sapati La Singga, ia menjadi ibu Kaomu Tapi-Tapi, dan Nyai Didi atau Ina Didi dinikahi Kenipulu La Bula, menjadilah ia ibu bagi Kaomu Kumbewaha.
Turunan dari ketiga merekalah yang berhak atas Tahta di Kesultanan Buton, yang dinamai Kamboru-Mboru Talupalena Artinya Tiga Tiang Utama Penyangga Kesultanan Buton. Mereka Bertiga itulah ibunya Kaomu, ibu para Lalaki, ibu Lara Bangsawan yang utama di Kesultan Buton.
NYAI CILI MUDA yang bergelar juga Princes of Solor Watan Lema di Kerajaan Sunda Kecil/Adonara, pada dirinya juga Mengalir Darah Buton.
Artinya Nyai Nyai di Solor Watan Lema adalah juga Nyai Nyai di Buton, pangkal muasal trah mereka semua dari seorang ulama dari Kerajaan Islam Mataram Kuno Syech Abdul Wahid, ulama yang membawa Islam ke Buton.
Dalam Risalah dokumen Belanda mengungkapkan secara detail peran menyolok, sang Putri Bangsan turunan seorang Syech itu bahkan disanjung setinggi pujian sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di Asia Tenggara diparuh pertama Abad ke-XVI , tiga abad sebelum RA. Kartini berbicara tentang Emansipasi.



