Unggul Islami Enterpreneurship

70 Karung Sampah Diangkut dari Hutan Karaenta, Tim Tegas untuk Pengguna Jalan: "Hutan Bukan Tempat Sampah"


Mitraindonesia, Maros-Hutan Karaenta Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kembali menjadi saksi aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan. 

Resor Pattunuang, SPTN Wilayah II Cenrana bersama Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menggelar aksi bebas sampah pada Kamis, 17 September 2026 di kawasan hutan yang menjadi habitat berbagai satwa liar dan dilintasi jalan yang membelah Hutan Karaenta.

Aksi tersebut turut melibatkan delapan siswa PKL SMK Kehutanan Mamasa, Sulawesi Barat, Angkatan VIII Tahun 2026. Mereka bersama petugas menyusuri titik kelompok E Macaca maura di kawasan Hutan Karaenta untuk mengumpulkan sampah yang berserakan, khususnya di sekitar jalur yang kerap dilalui pengguna jalan.

Sungguh sangat memprihatinkan. Sebanyak 70 karung sampah berhasil dikumpulkan dalam kegiatan tersebut.

Sampah yang ditemukan bukan hanya plastik. Di antara tumpukan sampah terdapat popok, pecahan beling, bangkai ikan, perangkat elektronik rusak, hingga gabus atau styrofoam bekas wadah ikan.


Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di kawasan hutan bukan sekadar masalah kebersihan dan keindahan. Sampah yang ditinggalkan manusia juga berpotensi menjadi ancaman bagi kehidupan satwa liar yang menjadikan hutan sebagai rumahnya.

Hutan adalah rumah satwa, bukan tempat membuang sampah

Petugas Resor Pattunuang menegaskan bahwa menjaga kebersihan Hutan Karaenta merupakan tanggung jawab bersama. Pengguna jalan yang melintas di sekitar kawasan hutan diharapkan tidak menjadikan bahu jalan maupun kawasan hutan sebagai tempat pembuangan sampah.

Petugas Resor Pattunuang menerangkan bahwa sampah yang dibuang sembarangan tidak hanya membuat kawasan terlihat kotor, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap, terutama dari sampah organik dan sisa ikan yang membusuk.

“Hutan bukan tempat sampah. Kami mengajak seluruh pengguna jalan yang melintas di kawasan Karaenta untuk membawa kembali sampahnya dan membuang pada tempat yang semestinya. Jangan tinggalkan sampah di dalam kawasan hutan, karena kawasan ini adalah habitat satwa liar,” demikian pesan yang disampaikan Petugas Resor Pattunuang.

Kekhawatiran yang sama disampaikan oleh Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca. Sampah yang berada di habitat satwa berpotensi menimbulkan berbagai risiko, terutama ketika satwa mencoba mencari makanan di sekitar sampah yang dibuang manusia.

Salah satu satwa yang perlu mendapat perhatian adalah Macaca maura, atau monyet hitam Sulawesi, yang hidup di kawasan hutan Karaenta, Sulawesi Selatan.


Sisa makanan, ikan, plastik, maupun benda lain yang tidak seharusnya berada di habitatnya dapat menarik satwa untuk mendekati lokasi pembuangan sampah. Kondisi tersebut berpotensi membuat satwa memakan benda atau bahan yang berbahaya dan dapat menyebabkan keracunan maupun gangguan kesehatan.

“Jangan sampai sampah yang kita tinggalkan menjadi makanan bagi satwa. Kita mungkin menganggapnya hanya sampah, tetapi bagi satwa bisa menjadi sesuatu yang mereka kira makanan. Ini yang harus kita cegah bersama,” ujar Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca.

Selain mengancam satwa, keberadaan sampah juga mengurangi kualitas visual kawasan konservasi. Hutan yang seharusnya menghadirkan suasana alami justru dipenuhi plastik, popok, styrofoam, botol, hingga barang-barang bekas lainnya.

Bagi siswa PKL SMK Kehutanan Mamasa yang terlibat, kegiatan ini juga menjadi pengalaman langsung bahwa tugas kehutanan bukan hanya berkaitan dengan pohon dan kawasan hutan, tetapi juga menyangkut perlindungan ekosistem dan satwa liar.

Kehadiran generasi muda dalam aksi tersebut menjadi bagian penting dari edukasi konservasi. Mereka belajar bahwa menjaga hutan dapat dimulai dari tindakan sederhana: tidak membuang sampah sembarangan dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

Sebanyak 70 karung sampah yang berhasil dikumpulkan menjadi pengingat bahwa pekerjaan menjaga kebersihan kawasan konservasi tidak cukup hanya dilakukan oleh petugas.

Dibutuhkan kesadaran dari seluruh pihak, terutama masyarakat dan pengguna jalan yang melintas di sekitar kawasan hutan. Pesannya sederhana: "bawa pulang sampahmu. Jangan tinggalkan apa pun".

Karena bagi manusia mungkin hanya sebungkus plastik yang dibuang begitu saja. Namun bagi satwa liar, satu potong sampah bisa menjadi ancaman bagi rumah, makanan, bahkan kehidupannya.

Hutan Karaenta adalah rumah bagi satwa liar. Mari menjaganya tetap bersih, alami, dan aman. Hutan bukan tempat sampah.


Citizen report : Aswadi Hamid, S.P.

Baca Juga
Posting Komentar