Unggul Islami Enterpreneurship

STRATEGI POLITIK = NEGOSIASI STRATEGI



Oleh:  S Purwadi Mangunsastro, Ir. MM - Dir. Eksekutif Yayasan Al Farizi Nusantara - Sekjen PDKN.


OPINI-Politik ditampilkan Prabowo akhir-akhir ini  diwarnai kesan ambigue sikap membela rakyat atau hidup mati bersama jkw dan oligarkhi. Sikap berhadap-hadapan, itulah yang ditangkap publik ketika Presiden Prabowo menggelorakan "hidup jokowi" sementara publik menggencarkan "adili jokowi". Tapi  pengamat lain menduga Prabowo lakukan test the water seberapa kuat dukungan terhadap keinginan rakyat untuk adili jokowi. 

Suasana politik Indonesia bak penuh asap. Memang, sebagian masyarakat beranggapan asap putih saja tapi sebagian rakyat justru melihat asap gelap, hitam pekat, menyelimuti Indonesia. Antara hitam dan putih, atau katakanlah abu - abu, begitu yang kita potret langkah politik Prabowo. Apa iya seorang jenderal eks komandan kopasus berpolitik abu-abu? Ya begitulah politik, tidak mudah ditebak. 

Tapi, perlu kita berpikir jernih dan berempati pada posisi Presiden Prabowo. Pidato diawal - awal dilantik inginkan berantas korupsi sampai tuntas bahkan akan dikejarnya koruptor hingga ke antartika. 

Ingin pemerintahan jujur, bersih, ingin agar rakyat sejahtera dan bahagia. Ini sebuah keinginan luhur yang tentunya secara waras pasti berasal dari qolbu suci Presiden Prabowo. Pidato - pidato membuat rakyat tersanjung. Rakyat ditaburi cahaya terang gemilang. 

Namun, apa lacur tak berapa lama justru di hari Ultah Partainya, Gerindra, Pidato Presiden Prabowo membuat langit Indonesia dirasa gelap. Sebegitukah? Menyedihkan, jika yang terjadi habis terang datang gelap gulita. Sangat tidak diharapkan. 

Indonesia gelap memang diksi menghebohkan, tapi jika kita percaya bahwa perkataan itu adalah doa sebagai cerminan prasangka hamba - hamba Allah tentunya nurani kita tak menginginkan kegelapan itu terjadi. Masih ada langkah lobi-lobi politik sebelum memobilisir suara rakyat untuk berdemo besar-besaran atau bahasa aktivis sebagai revolusi.

Kekuatan elitis yang berseberangan dengan Presiden Prabowo seyogyanya bisa dihimpun menjadi modal sosial untuk dapat diubah menjadi modal politik mencapai tujuan politik. Disitulah kemampuan elitis dan masyarakat diuji  untuk menegosiasikan langkah politik sehingga Prabowo dengan kekuatan kekuasaan sebagai Kepala Negara dapat diajak bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama mewujudkan keinginan ideal rakyat Indonesia. Modal politik Presiden Prabowo bisa kita dorong agar akumulasi seluruh sumber daya dan kekuasaan yang dimilikinya dapat didayagunakan mengakomodir pesan-pesan rakyat.  

Negosiasi politik adalah langkah terbaik apabila elitis di masyarakat bertemu langsung Presiden Prabowo untuk membicarakan bersama solusi apa yang diinginkan rakyat. Prabowo perlu mendengar nasehat atau masukan dari elitis rakyat, dan tidak semata mendengar dari lingkaran terdekatnya yang berbeda kiblat dengan opini yang berkembang di masyarakat.  

Fakta selama ini jika hanya dengan demo-demo tanpa pihak-pihak yang berkompeten ingin memajukan kebaikan bangsa dan negara ini maka hanya berkoar-koar diluar akan tanpa ada hasil. Jajaran elit politikpun dan pemimpinnya seringkali bebal dan telah mati hati nuraninya, tak peduli dengan teriakan dan jeritan rakyat. 

Para elitis rakyat yang diluar pemerintahan penting duduk bareng dengan Presiden Prabowo. Ini langkah arif bijaksana yang in syaa Allah akan merubah pendulum politik Presiden Prabowo kearah lebih baik, sebab sangat mungkin dengan cara itu Prabowo akan terbuka mata hatinya.

Langkah dialog atau pertemuan dari hati ke hati antara elitis rakyat dengan Presiden pun adalah bagian dari perjalanan besar membangun Indonesia dalam diksi Revolusi Rakyat Indonesia dengan slogan perjuangan AMPERA  sebagaimana dimaksudkan pidato Presiden Ir. Soekarno yang sering menyampaikan konsep Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) yakni perjuangan rakyat untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. 

Dalam konteks kekinian perjuangan membebaskan dari ketertindasan dan penderitaan yang dirasakan rakyat oleh kuatnya oligarkhi mengintervensi pemerintahan dan negara. Ditengarai terjadi penjajahan ekonomi, politik dan sosial bahkan mengancam kedaulatan negara yang menjadi fokus perjuangan para elitis rakyat hingga menganggap Jokowi pantas diadili sebab dinilai telah menyebabkan kerusakan masif sendi-sendi bernegara. 

Hari ini, Sabtu, tanggal 1 Ramadhan 1446 Hijriah, awal dimulai puasa ramadhan berharap menarik hikmah spiritual bahwa selain puasa untuk menjalin kedekatan dengan Allah SWT juga berharap terbangun kesabaran setelah selama 1 bulan ke depan kita berkhidmat agar terjaga dari perbuatan tercela. 

Persoalan politik dewasa ini memang penting disikapi secara serius namun pasca puasa ramadhan berharap tumbuh rahmat puasa bagi bangsa kita ini dengan harapan setelah sebulan di bulan ramadhan mentadaburi politik kebangsaan diharapkan puasa menjadi perisai diri dalam mensikapi kondisi perpolitikan nasional agar bangsa dan negara dijauhkan dari sikap - sikap langkah politik yang keji dan mungkar. Semoga pasca ramadhan yang terjadi adalah langkah - langkah politik yang arif dan bijaksana dengan terbangun jalinan strategi politik yang kelak menebarkannya bau wangi kesturi bukan malah membuat timbulan api yang memarakkan suasana langit yang sudah jauh - jauh hari diopinikan gelap. (SP. Official, 010325).

Baca Juga
Posting Komentar