Nestapa Si Kutang Merah
Mitraindonesia-Mentari pagi merangkak naik, menyiram pesisir pantai yang eksotis dengan bias keemasan. Ombak berkejaran, memecah kesunyian dengan desiran lembut, meninggalkan jejak buih putih di pasir. Lokasi salah satu pantai di Makassar, diambil pada 14 September 2025.
Di antara sampah-sampah kecil yang terdampar dan dibuang begitu saja, nampak pecahan botol, serpihan plastik, kemasan makanan, hingga dahan dan ranting kering.
Namun, sesuatu yang lain menarik perhatianku, seonggok kutang berwarna merah lusuh, dengan pengait yang berkarat dan kainnya yang mulai memudar, tergerus air laut dan terpanggang panas mentari, tergeletak pasrah di tepian.
Syahdan, hikayat kutang merah itu mungkin dulu adalah teman setia bagi pemiliknya, kini menjadi objek bisu yang menyimpan ribuan cerita. Siapa pemiliknya?
Ah, cukup pusing memikirkan sosoknya. Mungkin seorang perempuan muda yang berlibur dan lupa akan keberadaannya setelah mandi di laut? Ataukah seorang wanita yang kehilangan kutangnya saat mencoba berenang di tengah ombak besar yang menerpa?
Ataukah bagian dari sepasang kekasih yang menyelinap ke pantai di bawah rembulan, dan dalam kehangatan malam, pakaian itu terlepas dan terbawa arus? Atau mungkin ia sengaja dicampakkan begitu saja oleh tuannya? Entahlah.
Angin laut menerpa, menggerakkan sedikit kainnya yang lemas, seolah menghela napas panjang atas nasib malangnya. Kutang itu bukan sekadar seonggok kain tak berdaya yang dicampakkan. Ia adalah saksi bisu dari kerja keras yang menopang beban kehidupan.
Nun jauh, terdengar tawa riang anak-anak yang bermain di pasir, bisikan cinta para remaja di senja hari, dan bahkan air mata yang jatuh diam-diam saat seseorang merenungi hidup di tepi samudra.
Seorang nelayan tua berjalan menyusuri pantai, matanya menyapu cakrawala mencari tanda-tanda ikan. Langkahnya terhenti sejenak di dekat bra itu.
Ia tak mengambilnya, tak memedulikannya lebih dari sekadar benda asing yang terdampar. Baginya, laut sering memuntahkan hal-hal aneh dan misteri, dan kutang itu hanyalah salah satunya. Ia meneruskan langkah, meninggalkan kutang malang itu kembali pada takdirnya.
Beberapa jam kemudian, segerombol bocah-bocah yang membangun istana pasir berlari melewati tempat itu. Mereka melihat kutang itu, penasaran, lalu saling dorong dan cekikikan. Bagi mereka, kutang itu hanyalah benda aneh yang bisa dijadikan properti bermain. Namun terdengar teriakan seseorang memanggil, dan mereka pun kembali ke permainan, melupakan seonggok kain yang tergeletak pasrah.
Mentari beranjak ke peraduan. Semburat kemerahan menggores langit senja. Ombak pasang kembali datang, perlahan namun pasti. Kutang malang itu terangkat perlahan, bergoyang-goyang gemulai sebentar di atas air, lalu terseret pelan kembali ke tengah lautan.
Ia kembali ke asal mula terdamparnya, menjadi bagian dari misteri samudra yang tak terbatas. Ingin kuraih kembali ke pangkuan daratan, mengembalikannya ke tempat sebagaimana mestinya jika sudah bernama sampah, bersandar dalam tong sampah tertutup rapi. Kisahnya tak terucap, identitas pemiliknya tak terungkap.
Namun keberadaannya sejenak di pesisir pantai itu mengundang imajinasi tentang fragmen-fragmen kehidupan tersembunyi.
Tentang cerita-cerita yang terbawa arus, dan jejak-jejak kemanusiaan yang ditinggalkan begitu saja oleh sang pemilik, bahkan dalam bentuk seonggok kutang terbuang.
Hingga akhirnya menjadi sampah yang kembali menyesaki lautan biru ini... Tragis.




