Unggul Islami Enterpreneurship

Pulangnya Sang Guru Filantropi 'Saiful Amir'

 

Muhammad Naim Majid
(Aktivis Pemuda Muhammadiyah Kota Parepere)

OPINI, mitraindonesia.id -- Pagi, menunggu jadwal audiensi tim Stranas KPK di depan ruang kantor, saat detak jam 9 lewat 11 menit WIB mendapat kabar ‘Tdk ad mi ustd kaka2’, tetiba degup berubah dan mengantar memori kembali mengingat awal pertemuan dengan Kak Saiful yang saat itu berstatus mahasiswa baru, berada di barisan depan bergemul dengan terik sore hari.

Banyak cerita yang semuanya penuh ceria dan harapan. Sejak mengenalnya tidak pernah terdengar keluhan, apalagi kata ‘tidak bisa’. Berulang-ulang saya mengingat kembali kebersamaan itu sambil perlahan lisan ini menyalin doa.

Coba merangkai beberapa kilas ingatan, pertama, di tahun 2006 ’20 hari di Kaliurang dari KM 23 ke KM 8’ mengikuti Pelatihan Muballigh Mahasiswa Muhamamdiyah (PM3) di Pusat Dakwah Muhammadiyah (Kaliurang KM 23) lanjut ke I’tikaf Ramadhan di Yayasan Budi Mulia (Kaliurang KM 8) binaan Prof. Amien Rais. Semua terasa mudah meski berangkat dengan seadanya, berbagai kesulitan tapi entah bagaimana semuamya dimudahkan, mulai dari berjalan kaki mencari lokasi kegiatan, diterima menetap dan dijamu beberapa hari di Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, sampai melewati desakan ribuan penumpang saat akses pintu kapal laut diblok petugas bersenjata lengkap tapi malah membiarkan kami menaiki tangga tanpa pemeriksaan dan menjadi penumpang pertama memasuki dek (deck).

Kedua, Tahun 2008 ‘DAD Plus Selayar ke DAD Rintisan Mamuju’. Masa itu Kak Saiful diamanahkan sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPD IMM Sulawesi Selatan. Bidang Kaderisasi paling aktif masa itu, meski tak bertabur Instruktur disetiap penugasan. IMM Selayar diambang kemunduran karena lemahnya proses kaderisasi hingga terpaksa ‘DAD Plus’ dilaksanakan untuk mempersiapkan calon pimpinan di tingkat cabang. Hasilnya, beberapa kader ‘DAD Plus’ menjadi penggerak dan pelanjut narasi dan gerakan dakwah PC IMM di Selayar.

Lain halnya dengan Mamuju, STIE Muhammadiyah Mamuju sejak awal berdirinya sampai saat itu belum pernah melahirkan kader IMM, di masa itu kampus diwarnai berbagai gerakan kemahasiswaan lain dan kabarnya beberapa pihak tidak menginginkan kelahiran IMM. Resah dengan kondisi itu, Kak Saiful mengajak dan tanpa pikir panjang menanti bus malam dengan bekal serangsel pakaian, terus melaju. DAD Rintisan pun dijalankan dengan dukungan para kader IPM senior dan Tapak Suci yang sudah lama menetap. Setiap pagi, sore, dan malam mereka berjaga-jaga di lokasi perkaderan, memastikan kegiatan perkaderan berjalan sampai selesai. Mereka pun resah dan menanti kelak IMM bisa lahir di rumah sendiri.

Ketiga, September 2015, kami berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Munas LIRA, disela kegiatan Kak Saiful mengajak saya berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah dengan 2 agenda, konsultasi pendirian LAZISMU dan Sekolah Dasar Muhammadiyah. Saya tidak tahu rencananya karena memang tidak ada dalam agenda perjalanan kami. Saya hanya berpikir mungkin ide itu baru saja muncul dan mumpung di Jakarta. Meski saya punya dua pertanyaan untuk didiksusikan sebelum berangkat, ‘siapa yang akan menjadi mitra LAZISMU dan pendirian sekolahnya dimana’, tapi saya urungkan karena saya tahu semua akan dimudahkan.

Saat itu tepatnya hari Jumat, kantor PP Muhammadiyah nampak sepi, pengurus/staf Lazismu dan Majelis Pendidikan Dasar belum berada di kantor, kami menunggu di sekretariat DPP IMM dan melihat Immawan Deni Asy’ari (pengurus DPP IMM) yang saat ini menjabat sebagai Direktur Suara Muhammadiyah (PT Syarikat Cahaya Media) nampak memegang secarik kertas dan menaruhnya di saku jas merah.

Ba’da sholat Jum'at kami dikabarkan akan diterima oleh beberapa pengurus LazisMu kemudian dilanjutkan pertemuan dengan pengurus Majelis Pendidikan Dasar. Tidak banyak hal yang Kak Saiful bicarakan, hanya menyampaikan niat perlunya mendirikan LazisMu Parepare dan menambah amal usaha Muhammadiyah di tingkat sekolah dasar. Sebelum bergegas beranjak, kami dihadiahkan setumpuk buku saku dan pedoman pendirian sekolah dasar yang saat ini masih tersimpan.

Singkatnya, kurang lebih sembilan bulan kemudian, LazisMu diresmikan tahun 2016 dan di tahun 2017 berhasil menjadikan LazisMu sebagai penghimpun ZIS terbaik versi LazisMu Pusat. Berlanjut di tahun 2018 SD IT Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan Parepare pun didirikan. Dalam kurun waktu 3 tahun, Kak Saiful mewujudkan niatnya dalam karya nyata, 2 lembaga hadir yang memiliki visi filantropi, wujud pengabdian lain bersama persyarikatan.

Kalau dikonversi ke masa tempuh pendidikan tinggi, maka gelar sarjana filantropi diraih kurang dari masa studi normal. Bahkan tidak berlebihan jika kita sematkan ia sebagai ‘Guru Filantropi’.

Hari ini, Jum'at 21 November 2025, pribadi yang diterima umumnya kalangan, menghadirkan optimisme dibanyak perjumpaan, dan melayani ragam harapan kini berpulang mendahului kita. Langkahnya tidak lagi kita dengar karena sudah jauh kembali ke haribaan Sang Pencipta. Tak terdengar ucapan perpisahan, tapi ia meninggalkan kebersamaan dan kerinduan disisa usia.

Dari Jum'at tahun 2015 ke Jum'at Tahun 2025, perjalanan 10 tahun dalam gerakan filantropinya cukup bagi kita menjadikan inspirasi dan pelajaran, merawat buah niat dan ikhtiar dengan ghirah ber fastabiqul khaerat.

Jum'at ini tidak dapat mengantarnya, saya memilih menyudut di shaf terdepan, ketika adzan Jum'at mulai menggema tak tertahan cucuran air mata mengantar kepulangannya. Selamat berpulang kakak, sahabat sekaligus guruku.

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu, wa akrim nuzulah, wa wassi‘ mudkhalah, waghsilhu bil-mā’i was-tsalji wal-barad, wa naqqihi minal-khathāyā kamā yunaqqats-tsaubu al-abyadhu minad-danas, wa abdilhu dāran khairan min dārihi, wa adkhilhu al-jannah, wa a‘idzhhu min ‘adzābil-qabri wa ‘adzābin-nār.

Billaahi fii sabilil haq, fastabiqul khaerat.

MNM - Jakarta, 21 November 2025.
Baca Juga
Posting Komentar