Unggul Islami Enterpreneurship

Anjasaputra: Sang Petarung dari Pinrang yang Menolak Menyerah pada Kegagalan


Oleh: Ryan Ramdani (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)


OPINI-Di lorong-lorong kampus UIN Alauddin Makassar, nama Anjasaputra kini mungkin terdengar akrab sebagai sosok mahasiswa berprestasi dari Jurusan Hukum Tata Negara. Bagi banyak orang, ia adalah wajah dari kemenangan: langganan juara, pemegang trofi, dan mahasiswa yang selalu berdiri di bawah sorot lampu panggung apresiasi. 

Namun, apa yang dilihat publik hanyalah puncak gunung es dari sebuah perjalanan panjang yang berdarah-darah.

Sebagai sahabat sekaligus saksi mata, saya melihat sisi lain yang tidak tertangkap oleh lensa kamera. Saya melihat bagaimana seorang pemuda dari desa sederhana di Kabupaten Pinrang ini tidak "tiba-tiba" hebat. 

Saya melihatnya merangkak dari belasan kegagalan, menelan pahitnya kekecewaan, hingga akhirnya mampu berdiri tegak dengan mental baja. Ini bukan hanya cerita tentang piala, ini adalah kisah tentang penolakan untuk menyerah.

Takdir mempertemukan kami di sebuah "kawah candradimuka" bernama Lembaga Debat dan Riset Hukum (LDRH). Di lembaga inilah benih persahabatan kami tumbuh, disiram oleh keringat perjuangan dan diskusi-diskusi panjang yang melelahkan. Kami sama-sama mahasiswa baru yang naif, namun memiliki mimpi yang besar.

Ingatan saya mundur ke bulan September 2023. Kala itu, bermodalkan keberanian—atau mungkin kenekatan—kami mendaftarkan diri dalam lomba debat pertama yang diadakan oleh Kalla. Tanpa pengalaman, tanpa strategi matang, kami maju ke medan laga. 

Hasilnya? Kami kalah telak. Rasanya seperti ditampar oleh realitas bahwa semangat saja tidak cukup. Kami pulang dengan tangan hampa dan kepala tertunduk.


Peran Sang Mentor: Titik Balik Mentalitas

Namun, Tuhan selalu punya cara unik untuk membangkitkan hamba-Nya. Di tengah kebingungan pasca-kekalahan itu, kami dipertemukan dengan sosok yang kelak menjadi kompas bagi arah hidup kami: Kak Andi Agung Mallongi, S.H.

Beliau bukan sekadar senior, melainkan mentor sejati bagi kami di LDRH. Kak Agung, yang kini telah berkiprah sebagai Legal Analyst di Kementerian Agama Pusat RI, melihat potensi di balik kepolosan kami. 

Dengan kesabaran luar biasa, beliau membimbing kami yang masih sangat awam tentang dunia debat hukum.

Kak Agung tidak hanya mengajarkan retorika, tetapi beliau menanamkan substansi. 

Beliau mengajarkan kami membedah materi debat hingga ke akar-akarnya, menyusun argumentasi yang tajam, dan melatih logika berpikir yang runtut. Didikan beliau keras, terarah, dan disiplin. Di bawah tangan dinginnya, mental kami ditempa. Dari mental peserta yang hanya sekadar "ikut meramaikan", perlahan berubah menjadi mental juara yang lapar akan prestasi. Tanpa sentuhan tangan beliau, mustahil saya dan Anjas bisa berada di titik ini hari ini.

Menjadi rekan satu tim membuat saya memahami etos kerja Anjas yang "gila". Publik mungkin hanya melihat kilaunya saat ia menjuarai LKTIN PRISMA UNISMUH atau Rektor Cup Unhas. Tapi mereka tidak melihat 15 kali kegagalan yang mendahuluinya.

Bayangkan, 15 kali mendaftar, berjuang menyusun berkas, berlatih, lalu kalah. Bagi orang biasa, mungkin tiga atau empat kegagalan sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti. Namun, Anjas berbeda. Berasal dari keluarga sederhana justru menjadi bahan bakar utamanya. 

Ia tidak punya privilese untuk manja, satu-satunya jalan untuk mengubah nasib adalah dengan berprestasi.

Saya melihatnya jatuh, kecewa, dan lelah. Namun, ia tidak pernah membiarkan dirinya terpuruk lama. 

Titik balik itu akhirnya datang ketika ia lolos sebagai peserta termuda dalam ajang Call for Paper Nasional yang diadakan oleh Bawaslu Kalimantan Selatan. Itu adalah momentum emas. Validasi kecil itu membakar semangatnya kembali, membuktikan bahwa usahanya tidak sia-sia.


Sinergi dalam Kemenangan

Chemistry kami sebagai rekan seperjuangan terus diuji. Kami pernah bahu-membahu membawa nama universitas di Pekan Nasional KIP UNM. Meski saat itu kami kembali menelan kekalahan, kami tidak lagi melihatnya sebagai akhir dunia, melainkan sebagai evaluasi.

Buah kesabaran itu akhirnya kami petik di tahun 2025. Kami kembali satu tim dalam Lomba Debat Accounting Fair. Berbekal ilmu matang dari Kak Agung dan pengalaman "jatuh-bangun" sebelumnya, kami tampil lepas. 

Alhamdulillah, kami berhasil menyabet Juara 3 tingkat Regional, mewakili UIN Alauddin Makassar. Momen itu sangat emosional bagi kami; sebuah pembuktian bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.


Filosofi Bugis dan Harapan

Dalam setiap langkahnya, Anjas selalu memegang teguh filosofi Bugis: "Sappai madenge pigau madeceng pakkuwarui madecenge deceng tu polena." Artinya: cari, lakukan, dan biasakan kebaikan, maka kebaikan lainnya akan datang. Filosofi ini menjadi jangkar yang membuatnya tetap rendah hati saat menang dan tetap optimis saat kalah.

Bagi saya, Anjasaputra adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi atau asal daerah bukanlah penghalang. Mahasiswa dari kampung pun bisa mengguncang panggung prestasi, asalkan memiliki tekad sekeras baja dan mau merendahkan hati untuk belajar dari mentor yang tepat.

Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanannya, dari titik nol hingga sampai di titik ini. Perjalanan kami belum usai, dan saya yakin, nama Anjasaputra akan terus terdengar di panggung-panggung kemenangan selanjutnya.

Baca Juga
Posting Komentar