Unggul Islami Enterpreneurship

Sisi Gelap Akun "Kampus Ganteng-Cantik": Antara Standar Semu dan Pelanggaran Privasi

Foto: Tampilan feed dari akun-akun TikTok  kampus, seperti ‘UnhasCantik’ dan ‘UINAM Ganteng’, yang memperlihatkan mahasiswa dari kampus lokal. Akun-akun ini telah dikunjungi dan disukai ribuan pengguna.


Mitraindonesia, Makassar – Fenomena akun TikTok yang mengkurasi mahasiswa “tercantik” dan “terganteng” dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, seperti UIN Alauddin Makassar, Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Universitas Hasanuddin (Unhas) terus bergulir viral. Namun, di balik ribuan likes dan komentar pujian, tersimpan persoalan serius yang mengancam kesehatan mental serta privasi mahasiswa.

Fenomena ini tidak sekadar tren digital biasa; ia menjadi pemicu munculnya rasa rendah diri (insecure), kecemasan akan tertinggal (Fear of Missing Out atau FOMO), hingga pelanggaran data pribadi yang semakin kompleks di lingkungan akademis.

Dampak negatif dari konten perbandingan fisik ini bukan tanpa dasar. Merujuk pada penelitian meta-analisis dalam jurnal Body Image (2025), paparan konten visual yang intens di media sosial terbukti mendorong perilaku social comparison (perbandingan sosial). Hal ini berkaitan erat dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh serta munculnya gejala gangguan makan.

Temuan serupa dicatat dalam Jurnal Acta Psychologia (2023), yang menyoroti bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan standar visual di media sosial berdampak buruk pada penerimaan diri. Bagi mahasiswi, hal ini sering kali bermanifestasi menjadi rasa insecure yang akut.

Dosen Jurnalisme Gender UIN Alauddin Makassar, Rahmawati Latief, M.Soc.Sc., menilai bahwa akun-akun tersebut menciptakan ruang bagi narsisme, komodifikasi tubuh, serta eksploitasi visual.

“Mahasiswa mulai membandingkan diri mereka dengan sosok-sosok yang ditampilkan. Akibatnya, kepercayaan diri merosot karena standar kecantikan yang dibangun cenderung tidak realistis dan semu,” jelas Rahmawati.

Kritik tajam juga datang dari kalangan mahasiswa. Ermi, seorang mahasiswi UNM, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan akun-akun tersebut. Menurutnya, konten semacam itu justru melanggengkan standar kecantikan yang "tidak normal".

“Itu justru akan menimbulkan standar kecantikan atau ketampanan yang keliru. Saya pribadi tidak setuju karena ini membuat standar yang semakin tidak masuk akal bagi mahasiswa,” ujar Ermi dalam wawancara langsung pada Minggu, 16 November 2025.

Di sisi lain, tren ini juga berpotensi menciptakan hierarki sosial yang tidak sehat. Sementara sebagian orang merasa insecure, sebagian lainnya mungkin merasa “lebih unggul” dari mereka yang ditampilkan, yang justru menjauhkan semangat inklusivitas di lingkungan kampus.

Masalah tidak berhenti pada aspek psikologis. Pelanggaran etika dan hukum menjadi ancaman nyata karena banyak foto mahasiswa diambil dan diunggah tanpa persetujuan pemiliknya (consent).

Yoga Saputra, mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Alauddin Makassar, menceritakan pengalamannya menjadi korban. Wajahnya diunggah oleh akun "Kampus Ganteng" setelah seseorang mengambil fotonya dari akun pribadi tanpa izin.

“Pelanggarannya berlapis. Pertama, ada yang mencuri foto saya. Kedua, admin mengunggahnya tanpa verifikasi apakah saya setuju atau tidak. Ini sangat membahayakan rekam jejak digital mahasiswa,” tegas Yoga, Rabu, 10 Desember 2025.

Yoga berharap pihak kampus, khususnya birokrasi di UIN Alauddin, dapat turun tangan memediasi masalah ini agar nama baik institusi tidak tercoreng oleh konten yang merugikan mahasiswa secara personal.

Sebagai solusi konstruktif, Ermi mengusulkan agar energi kreatif para pengelola akun dialihkan untuk mempromosikan pencapaian akademik maupun non-akademik.

“Daripada membuat akun standar fisik, lebih baik buat akun yang menampilkan prestasi mahasiswa. Dengan begitu, kita semua merasa termotivasi untuk ikut berprestasi, bukan malah sibuk merasa kurang karena fisik,” tambahnya.

Media sosial kampus sudah sepatutnya kembali ke fungsi asalnya, menjadi ruang yang sehat, inspiratif, dan suportif bagi seluruh sivitas akademika tanpa membeda-bedakan tampilan fisik.


Citizen report: Ryan Ramdani (Mahasiswa UIN Alauddin).

Baca Juga
Posting Komentar