Unggul Islami Enterpreneurship

Viral Game TheoTown, Satire Politik di Negeri Simulasi yang Nyata


Oleh: Ryan Ramdani (Mahasiswa UIN Alauddim Makassar)

Mitraindonesia, Opini-Indonesia adalah negeri yang penuh dengan keajaiban. Di mana game sederhana seperti TheoTown bisa meroket ke posisi Top 1 di Play Store, hanya karena orang-orang bosan dengan kenyataan dan ingin mencicipi bagaimana rasanya menjadi pejabat. 

Bukan pejabat biasa, tapi yang benar-benar membangun kota impian seperti misalnya jalan raya mulus tanpa banjir, listrik nyala 24 jam tanpa mati mendadak, dan anggaran yang benar-benar dipakai untuk rakyat, bukan untuk proyek-proyek misterius yang entah kemana alokasinya. 

Sungguh ironis, bukan? Di dunia nyata, kita punya pemimpin yang katanya berpengalaman, tapi di game ini, bahkan anak SMA bisa jadi walikota yang lebih efisien daripada para elite kita.

Bayangkan saja, ribuan orang Indonesia mendadak antusias membangun kota virtual mereka. Mereka mengatur lalu lintas, membangun rumah sakit, dan mengelola ekonomi, semua tanpa perlu ijazah yang asli-aslian atau gelar sarjana yang entah dari mana asalnya. Oh, tunggu, itu mengingatkan saya pada seseorang yang konon punya ijazah tapi selalu jadi bahan perdebatan netizen. 

Di TheoTown, setidaknya kalau kamu gagal, kamu bisa restart tanpa harus menunggu pilpres berikutnya atau mengandalkan dukungan partai koalisi. Di game ini, kompetensi diukur dari hasil, bukan dari pengalaman yang katanya puluhan tahun tapi hasilnya masih begitu-begitu saja.

Lalu ada fitur pertanian dan industri di game ini, di mana pemain bisa mengelola lahan sawit tanpa harus merampas hutan adat atau mengakibatkan kabut asap tahunan. 

Di TheoTown, kalau kamu salah kelola, kota kamu banjir atau polusi, tapi setidaknya bukan karena konflik kepentingan pribadi. Sungguh menyegarkan, bukan? Rakyat bermain game ini tidak hanya sebagai hiburan, tapi untuk melampiaskan kritik halus terhadap pemerintahan yang katanya pro-rakyat, tapi realitanya lebih mirip kota virtual yang glitch seperti infrastruktur ambruk, korupsi merajalela, dan pemimpin yang sibuk foto-foto di media sosial.

Game ini juga memeiliki fitur akses pendidikan. Pemain bisa membangun sekolah dan universitas tanpa perlu khawatir IPK rendah bisa menghalangi karir. 

Di TheoTown, setidaknya kalau presentasi kebahagiaan kamu rendah, warga virtual protes dan kamu bisa fix segera. Beda dengan di sini, di mana kritik rakyat dianggap "buzzer" atau "fitnah", dan masalah dibiarkan menggantung seperti proyek kereta cepat yang molor terus.

Fenomena ini sebenarnya sindiran halus dari rakyat dimana mereka ingin pejabat yang kompeten, bukan yang sibuk dengan drama pribadi seperti kasus korupsi keluarga atau janji-janji kampanye yang menguap begitu saja. 

Game ini viral karena memberikan ilusi kontrol terhadap sesuatu yang hilang di negeri ini, di mana demokrasi terasa seperti simulasi buruk dengan bug tak berujung. 

Mungkin para pejabat kita sebaiknya coba main TheoTown juga, siapa tahu bisa belajar satu-dua hal tentang transparansi dan akuntabilitas.

Baca Juga
Posting Komentar