Unggul Islami Enterpreneurship

Studi Satwa Endemik, Mahasiswa Magang UNHAS Kunjungi Sanctuary Tarsius fuscus di Pattunuang, TN Babul


Mitraindonesia, Maros-
-Sebanyak enam orang mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS) peserta magang skema Praktik Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) mengikuti pembelajaran lapangan di kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, pada Senin, 25 Mei 2026.

Keenam mahasiswa UNHAS tersebut diantaranya: Amira Mufidah, Erika Selyndana, Nurul Annisa, Nur Mardatillah Qadriana Putri M, Salsabila Mahif Aulia, dan Damaris Bine Mata

Kegiatan yang berlangsung di Sanctuary Tarsius fuscus, Resor Pattunuang, SPTN Wilayah II Cenrana itu menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengenal lebih dekat satwa endemik Sulawesi sekaligus praktik konservasi di lapangan.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh personil Tim kerja pengelola sanctuary Tarsius fuscus Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Mahasiswa tampak antusias mengikuti sesi pengenalan awal sebelum memasuki area konservasi. Suasana diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan yang diajukan peserta terkait kehidupan Tarsius fuscus dan upaya pelestariannya.

Koordinator Sanctuary Tarsius fuscus, Kama Jaya Shagir, S.Hut., M.Hut., menjelaskan tentang habitat satwa primata nokturnal tersebut. Ia memaparkan bahwa Tarsius fuscus hidup di kawasan hutan dengan vegetasi yang mendukung kebutuhan hidupnya, termasuk lokasi berlindung, mencari makan, hingga berkembang biak.

“Habitat menjadi faktor penting bagi keberlangsungan hidup Tarsius fuscus. Keberadaan tutupan hutan yang baik akan sangat menentukan keberhasilan konservasi satwa ini,” jelas Kama Jaya di hadapan peserta magang.

Sementara itu, Aswadi Hamid selaku fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) memberikan pengenalan awal mengenai Tarsius fuscus, mulai dari morfologi, taksonomi, hingga perilakunya di alam. Mahasiswa diperkenalkan pada karakteristik fisik satwa tersebut, termasuk ukuran tubuh, kemampuan adaptasi, serta aktivitas hariannya sebagai satwa nokturnal atau aktif malam hari.

“Memahami taksonomi, morfologi dan perilaku satwa menjadi dasar penting dalam mendukung upaya konservasi dan pengelolaan habitat,” terang Aswadi Hamid saat sesi pemaparan materi.


Materi berikutnya disampaikan oleh Supardi, S.Hut., selaku fungsional PEH. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan mengenai jenis pakan alami Tarsius fuscus serta berbagai ancaman yang dihadapi satwa tersebut di habitat alaminya.

“Ancaman terhadap satwa liar dapat berasal dari perubahan habitat maupun gangguan lingkungan. Karena itu, upaya konservasi membutuhkan dukungan banyak pihak agar populasi satwa tetap terjaga,” ujar Supardi.

Setelah sesi materi selesai, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi kandang habituasi di Sanctuary Tarsius fuscus. 

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa magang untuk melihat secara langsung fasilitas konservasi sekaligus memahami tahapan penanganan dan pembiasaan satwa dalam program pelestarian.

"kami termasuk beruntung karna dapat melihat Tera secara langsung dengan durasi yang lama, dimana Tera juga keluar masuk kandang seperti sedang menyapa kami," ujar Nur Mardatillah Qadriana Putri M

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman praktik lapangan yang memperkuat pemahaman mereka terhadap pentingnya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya satwa endemik Sulawesi yang menjadi bagian penting dari ekosistem hutan tropis.

"Saya sangat senang dan kagum karena ini pertama kali melihat Tarsius Makassar secara langsung, saya sangat ingin orang-orang tau bahwa di Pattunuang bisa melihat hewan khas sulawesi selatan yang keren ini," ucap Amira Mufidah penuh bangga. 


Citizen report : Aswadi Hamid, S.P. 


Baca Juga
Posting Komentar