Unggul Islami Enterpreneurship

BAPPENAS RI Tinjau Sanctuary Tarsius TN Bantimurung Bulusaraung, Dorong Penguatan Konservasi Berbasis Ilmu Pengetahuan


Mitraindonesia, Maros-Upaya menjaga kelestarian satwa endemik Sulawesi terus diperkuat melalui pengelolaan kawasan konservasi yang didukung sarana, teknologi, dan penelitian. Komitmen tersebut tergambar dalam kunjungan lapangan Tim Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) RI ke Sanctuary Tarsius fuscus di Resor Pattunuang, SPTN Wilayah II Cenrana, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Kunjungan yang didampingi Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL), Ditjen KSDAE, Kementerian Kehutanan, ini dilaksanakan dalam rangka pemantauan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2026 serta evaluasi proyek Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) bidang kehutanan.

Dalam diskusi dan peninjauan lapangan, Tim Kerja Sanctuary Tarsius memperkenalkan berbagai sarana pendukung konservasi yang dibangun melalui pembiayaan SBSN tahun 2020. Fasilitas tersebut bukan sekadar infrastruktur, melainkan bagian dari upaya mendukung pengamatan, pemantauan, dan pengembangan pengetahuan tentang kehidupan Tarsius fuscus di habitatnya.

Koordinator Tim Kerja Sanctuary Tarsius, Kama Jaya Shagir, S.Hut., M.Hut., menjelaskan bahwa kandang habituasi memiliki peran penting dalam mendukung proses adaptasi dan pengamatan perilaku tarsius. Fasilitas ini menjadi ruang untuk mempelajari aktivitas satwa, termasuk pola perilaku dan responsnya terhadap lingkungan.

“Pembangunan kandang habituasi bukan hanya tentang penyediaan fasilitas, tetapi juga bagaimana sarana tersebut mendukung pengamatan ilmiah dan pengembangan pengetahuan tentang Tarsius fuscus. Informasi yang diperoleh dapat menjadi bahan penting dalam mendukung pengelolaan dan upaya konservasi satwa ini,” jelas Kama Jaya Shagir.

Teknologi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan sanctuary. Supardi, S.Hut., menjelaskan pemanfaatan kamera pengawas atau CCTV untuk membantu pengamatan aktivitas tarsius. Teknologi ini memungkinkan pemantauan dilakukan dengan lebih praktis tanpa harus selalu berada dekat dengan satwa.

“CCTV sangat membantu dalam mengamati aktivitas tarsius, termasuk perilaku yang mungkin sulit terpantau secara langsung. Dengan dokumentasi visual, pengamatan dapat dilakukan secara lebih efektif dan menjadi bahan evaluasi dalam pengelolaan sanctuary,” ungkap Supardi.

Sementara itu, Aswadi Hamid, anggota Tim Kerja Sanctuary Tarsius sekaligus fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), menjelaskan manfaat canopy trail dan jalur monitoring yang dibangun melalui dana SBSN tahun 2020. Sarana ini mendukung kegiatan pengamatan, pemantauan rutin, sekaligus kunjungan edukatif bagi masyarakat.

“Canopy trail dan jalur monitoring memudahkan petugas menjangkau titik-titik pengamatan serta mendukung kegiatan pemantauan Tarsius fuscus. Selain untuk kepentingan pengelolaan, fasilitas ini juga membuka peluang edukasi dan kunjungan yang mengenalkan pentingnya konservasi satwa endemik Sulawesi,” tutur Aswadi Hamid.

Tak kalah penting, Syamsuddin, selaku Pengelola Umum Operasional, menjelaskan fungsi display room sebagai ruang informasi dan edukasi. Meski demikian, ia mengakui bahwa ruang display tersebut sejauh ini belum memadai karena fasilitas pendukungnya masih terbatas.

Kunjungan BAPPENAS RI ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung manfaat pembangunan sarana konservasi sekaligus mengevaluasi dukungannya terhadap pelaksanaan program kehutanan. Infrastruktur, teknologi pemantauan, dan edukasi diharapkan dapat berjalan beriringan dalam memperkuat pengelolaan sanctuary.

Sebab, menjaga Tarsius fuscus bukan semata-mata melindungi satwa kecil bermata besar yang menjadi kekayaan hayati Sulawesi. Lebih dari itu, konservasi membutuhkan ilmu pengetahuan, pengelolaan yang berkelanjutan, serta kolaborasi berbagai pihak agar warisan keanekaragaman hayati tetap lestari bagi generasi mendatang.


Citizen report : Aswadi Hamid, S.P.

Baca Juga
Posting Komentar