OPINI: Konten Pria Pakai Mukenah, Merusak Citra Muslimah
Oleh : Wardoyo Dingkol.S.I.Kom.,M.I.Kom
(Praktisi Komunikasi/Akadamisi) (Alumni S2 Ilmu Komunikasi Unhas)
Dalam konteks etika politik dan komunikasi, munculnya konten kampanye yang secara langsung atau tidak langsung merusak citra perempuan Muslimah adalah sesuatu yang sangat tidak pantas dan harus dikecam.
Secara akademis, kampanye politik memiliki tanggung jawab moral untuk mencerminkan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Namun, saat konten kampanye justru menjadi alat untuk mempermalukan atau mendiskreditkan kelompok tertentu, seperti perempuan Muslimah, maka hal itu tidak hanya melanggar norma etika, tetapi juga dapat dianggap sebagai pelecehan yang mengancam nilai-nilai demokrasi.
Salah satu indikator ketidakpantasan konten tersebut adalah penggunaan narasi atau visual yang secara implisit menggiring opini publik untuk memandang perempuan Muslimah secara negatif.
Kampanye semacam ini tidak hanya berbahaya bagi individu yang menjadi targetnya, tetapi juga berkontribusi pada penguatan stereotip gender yang merugikan perempuan secara umum.
Dalam perspektif komunikasi massa, tindakan ini menciptakan bias representasi yang memperburuk citra kelompok tertentu di mata masyarakat. Lebih dari itu, dampaknya dapat meluas, menciptakan polarisasi sosial dan melemahkan solidaritas kebangsaan.
Sebagai seorang akademisi, saya menilai bahwa tindakan semacam ini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar komunikasi politik yang sehat.
Kampanye politik seharusnya menjadi ruang untuk berbagi visi, gagasan, dan solusi terhadap permasalahan masyarakat, bukan arena untuk menyebarkan narasi yang merendahkan martabat seseorang atau kelompok.
Dalam hal ini, konten yang merusak citra perempuan Muslimah tidak hanya menunjukkan kurangnya profesionalisme dan etika politik, tetapi juga mencederai rasa keadilan publik.
Oleh karena itu, sangat penting bagi para pelaku politik untuk menjaga integritas dalam komunikasi mereka, menghormati nilai-nilai moral, dan menjunjung tinggi martabat setiap individu dalam setiap aspek kampanye.



