Unggul Islami Enterpreneurship

𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐀𝐥-𝐐𝐮𝐫’𝐚𝐧 𝐈𝐭𝐮 𝐌𝐮𝐥𝐢𝐚: 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐏𝐮𝐧 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐌𝐞𝐥𝐞𝐰𝐚𝐭𝐢 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐮𝐥𝐢𝐚


Mitraindonesia--Sekarang ini, belajar Al-Qur’an terasa semakin mudah. Kita tinggal buka YouTube, TikTok, atau aplikasi lain, ketik “murattal merdu”, langsung muncul lantunan para qari dengan suara yang menggetarkan hati. 

Ada yang bacaannya tartil dan sangat indah, seperti para imam Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Ada pula mereka yang sebatas konten kreator, tapi bacaannya tetap mengalun dengan suara yang lembut dan menarik.

Tanpa sadar, kita mulai menirukan: gaya nadanya, iramanya, titik-titik berhentinya. Bahkan, sebagian dari kita hafal cengkok dan naik-turun nada qari favorit, dan merasa semakin semangat untuk ikut belajar. Rasanya seperti makin dekat dengan Al-Qur’an. Tapi kalau kita jujur, cukupkah belajar dengan cara seperti itu?

Soalnya, banyak dari kita yang akhirnya merasa cukup hanya karena bisa meniru suara. Padahal yang ditiru sering kali bukan ilmunya—bukan makhraj hurufnya, bukan sifat hurufnya, bukan hukum-hukum tajwidnya—tapi lagunya. 

Kita bisa jadi sangat peka dengan irama, tapi masih keliru saat membaca huruf yang tebal jadi tipis, atau yang seharusnya samar malah jadi jelas. Bisa jadi nadanya beneran mirip, tapi hukum bacaannya keliru.

Memang, kalau hanya dilihat dan didengar sekilas, bacaannya kayak sopan banget masuk ke telinga. Tapi indah belum tentu benar. Dan dalam Al-Qur’an, keindahan bukan satu-satunya standar, kebenaran bacaan lebih utama. Karena para qari yang kita tiru itu bukan hanya bersuara indah. 

Mereka belajar bertahun-tahun, memiliki sanad, dan bertalaqqi dan musyafahah dibimbing langsung oleh para masyaikh yang kredibel dan kompeten dalam bidang tajwid. Sementara kita? Hanya bermodal meniru video, lalu menilai diri sendiri: “Kayaknya udah mirip.”

Padahal, qari yang kita tiru tidak pernah menyimak balik bacaan kita. Mereka tidak tahu apakah idgham kita kebablasan, makhraj kita sudah tepat atau belum, atau kadar tafkhim dan tarqiq-nya sudah tepat atau belum. Kita hanya mengira-ngira. Dan dari situlah mulai muncul bahaya: kita merasa sudah benar, padahal tidak pernah ada yang mengoreksi bacaan kita.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hal serupa juga terjadi dalam sisi teorinya. Sekarang ini banyak orang yang semangat belajar tajwid dari buku, PDF, video pendek, bahkan kitab-kitab terjemahan. Tidak dipungkiri hal tersebut adalah kebaikan yang patut diapresiasi. Tapi ada satu titik lemah yang sering terlupakan, tidak belajar langsung dari guru.

Tidak punya pembimbing yang bisa ditanya dan memvalidasi kebenaran bacaan kita, tidak memahami bahasa Arab secara utuh atau mungkin basicnya saja tidak dikuasai dengan baik, dan akhirnya hanya berpegang pada pemahaman sendiri dari hasil menyimpulkan terhadap teks terjemahan.

Padahal ilmu tajwid itu sangat teknis dan penuh konteks. Banyak istilah yang tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah. Banyak hukum yang jika dibaca tanpa bimbingan bisa menimbulkan kesimpulan yang keliru. Kita merasa paham, padahal yang kita pegang adalah hasil tafsir bebas dari penjelasan yang kita baca sendiri. Makin rajin belajar sendiri, makin merasa yakin seperti itulah cara baca yang benar.

Sebagian dari kita bahkan sudah mulai mengajar. Mengisi kelas tahsin, memegang TPA, membina halaqah. Padahal belum pernah talaqqi kepada guru yang mutqin. Belum pernah duduk di depan syaikh yang jelas sanad keilmuannya dan menyetorkan bacaan dari awal sampai akhir. Belum pernah dikoreksi secara detail langsung ayat per-ayat.

Dan masalah ini bukan sekadar tentang “boleh atau nggak”, tapi tentang sejauh mana kita benar-benar paham apa yang kita ajarkan. Karena mengajarkan Al-Qur’an bukan cuma soal hafal istilah, tapi soal amanah menyampaikan ilmu. Kalau dasarnya belum benar, bagaimana kita yakin bahwa apa yang kita ajarkan tidak keliru?

Sampai suatu hari kita akhirnya duduk di hadapan guru yang mutqin. Kita pun membaca dengan penuh percaya diri—merasa sudah cukup belajar, sudah menonton banyak video, dan merasa bacaan kita sudah indah. Lalu tiba-tiba sang guru berkata:

“Ulangi.”

Bukan karena salah besar, tapi karena ada hal-hal detail yang kurang disempurnakan. Mungkin tafkhim kita berlebihan, mungkin mad-nya tidak seimbang, mungkin makhrajnya belum tepat. Hal-hal kecil yang selama ini kita anggap sepele, ternyata sangat penting. Dan yang paling menyakitkan: teori yang selama ini kita yakini, ternyata keliru.

Saat itulah kita sadar: yang kita tahu selama ini, baru permukaan. Kita baru belajar tampilan, belum menyentuh kedalaman. Kita baru menyentuh kulit, belum sampai ke ruh dari ilmu tajwid itu sendiri.

Perlu kita ingat bahwa ilmu tajwid bukan hanya kumpulan teori. Ia adalah ilmu lisan, yang diwariskan secara langsung, turun-temurun. Para ulama menekankan pentingnya talaqqi—belajar langsung dari guru yang jelas silsilah sanad keilmuannys.

Karena sedikit saja kita salah dalam membaca, bisa berubah arti. Dan jika kita salah dalam mengajar, dampaknya bisa jauh lebih besar. Tanpa guru, kita mudah merasa cukup. Tanpa bimbingan, kita bisa merasa berjalan lurus padahal menyimpang perlahan. Dan semua itu bermula dari satu hal: merasa ngerti, padahal belum pernah belajar secara benar.

Kalau kita mulai merasa bacaan kita masih ragu-ragu, kadang bingung ini hukum apa, atau sadar bahwa cara belajar kita selama ini terlalu mengandalkan feeling… mungkin sekarang saatnya kita introspeksi sejenak. Lihat ulang jalur belajar kita selama ini. Lalu tanyakan dengan jujur ke diri sendiri:

“Saya belajar Al-Qur’an dari siapa?”

“Sanadnya nyambung ke siapa?”

“Sudah pernah ada yang menyimak dan mengoreksi bacaan saya secara langsung, huruf demi huruf, belum?”

Karena Al-Qur’an itu bukan sembarang bacaan. Ia adalah Kalamullah. Dan membacanya pun harus lewat jalan yang dimuliakan.

So, mulailah sekarang. Cari guru yang bisa mendengar dan membenarkan bacaanmu. Hadiri halaqah tahsin dan talaqqi. Jangan malu memperbaiki yang sudah terbiasa. Jangan gengsi hanya karena kita sudah ngajar terus nggak mau belajar lagi. Karena dalam membaca Al-Qur’an, lebih baik belajar dari awal dengan benar, daripada melanjutkan yang salah dan mewariskan kekeliruan itu kepada orang lain.

Al-Qur’an terlalu mulia untuk dibaca asal-asalan. Maka belajarlah dengan cara yang dimuliakan.

Baca Juga
Posting Komentar