Unggul Islami Enterpreneurship

Kisah Wafatnya Imam Bukhari

 


Mitraindonesia--Imam Bukhari mendapat tekanan yang sangat keras diakhir-akhir hayatnya dari penguasa kota-kota muslim diantaranya kota Naisabur, Bukhara, dan Samarkhan.

Diantara sebabnya adalah Imam Bukhari menolak mengajarkan anak-anak para raja di istana, semacam privat, sekalipun sang raja memintanya. 

Beliau selalu berkata, Ilmu itu didatangi. Bukan dibawakan ke pintu-pintu. 

Inilah perkataan masyhur yang dikenal sampai saat ini bahwa ilmu itu harus didatangi bukan ia yang mendatangi kita. 

Maka rajin-rajinlah mengikuti kegiatan ta'lim atau pengajian di masjid-masjid karena dimasjid itu ada keberkahan. Janganlah senantiasa berharap untuk didatangi oleh ceramah-ceramah dari medsos ke rumah anda. 

Selain alasan di atas Imam Bukhari juga mendapatkan banyak rasa iri dan dengki dari "ulama" dimasanya. Rasa iri sebagian orang terhadap Imam Bukhari karena ketenaran, kecerdasan dan sejarah yang ditorehnya.

Ketika Imam Bukhari berumur 62 tahun, penguasa Naisabur memerintahkannya untuk keluar dari kota dan berkata bahwa keberadaannya tidak lagi diharapkan.

Beliau pun meninggalkan Naisabur hingga sampai di tanah lahirnya, Bukhara. Orang berbondong-bondong menyambutnya di gerbang kota dengan harta dan makanan. 

Masyarakat biasa, penuntut ilmu, dan sebagian ahli hadits berkumpul di sana meninggalkan majelis ahli hadits lain sehingga hal itu membuat hati sebagian orang menjadi panas.

Tetapi tidak berselang lama, ketenaran itu membuat murka penguasa. Sang penguasa di Bukhara pun ikut mengusirnya. 

Utusan penguasa Bukhara sampai di depan rumah dan meminta Imam Bukhari untuk segera meninggalkan kota. Perintahnya berbunyi "Sekarang juga" beliau harus keluar !.

Imam Bukhari bahkan tidak diberi waktu untuk sekedar mengumpulkan dan merapikan buku-bukunya. 

Beliau terpaksa keluar kemudian berkemah di perbatasan kota selama tiga hari untuk merapikan buku-bukunya sedangkan beliau tidak tau entah mau pergi kemana.

Imam Bukhari akhirnya memutuskan berangkat ke arah Kota Samarkhan. Tak sampai masuk ke kota, beliau berbelok ke arah salah satu desa disekitarnya, desa Kartank. 

Bertamu kepada sebagian kerabatnya di sana. Kali ini beliau ditemani oleh Ibrahim bin Ma'qil.

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Pengawal penguasa Samarkhan pun sampai di depan pintu rumah tempat Imam Bukhari bertamu.

Kali ini perintah dari penguasa Samarkhan adalah, Imam Bukhari harus keluar dari Samarkhan dan desa-desa sekitarnya. 

Padahal saat itu adalah malam Idul Fitri. Sayangnya, beliau disuruh untuk keluar "sekarang" bukan setelah Idul Fitri.

Imam Bukhari  takut membuat masalah bagi kerabat yang sudah memuliakannya. 

Ibrahim bin Ma'qil merapikan buku beliau di salah satu tunggangan beliau dan menyiapkan tunggangan lainnya untuk sang Imam.

Ibrahim bin Ma'qil kemudian kembali ke rumah, barulah Imam Bukhari keluar dalam keadaan terpaksa. Keduanya berjalan menuju tunggangan.

Setelah sekitar duapuluh langkah, Imam Bukhari merasakan letih yang amat sangat. Beliau meminta Ibnu Ma'qil menunggunya sebentar untuk beristirahat.

Imam Bukhari duduk di tepi jalan kemudian tertidur. Beberapa menit setelahnya, ketika Ibnu Ma'qil ingin membangunkan beliau, ternyata ruh beliau telah diangkat ke sisi Allah SWT. 

Imam Bukhari wafat di tepi jalan pada malam Idul Fitri, 1 Syawal 256H, dalam keadaan terusir dari satu kota ke kota lain di usia tuanya.

Pelajaran:

Banyak ulama yang lurus akan mengalami nasib serupa, dan itulah ujian hidup di dunia, karena kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat bukanlah kehidupan di dunia yang sementara ini.

Namun pelajaran paling berharga dari kisah tersebut adalah, bahwa hari ini dan sampai kiamat, tidak ada seorangpun yang mengenal nama-nama penguasa Naisabur, Bukhara dan Samarkhan ketika itu, apalagi nama-nama pengawalnya yang telah mengusir sang Imam. Tetapi semua kaum muslimin sampai saat ini pasti mengenal Imam Bukhari.

Demikianlah Allah memberikan kemasyhuran nama sebagai bentuk kemuliaan bagi para pewaris nabi yang  diantara sebabnya adalah Ilmu.

Semoga Allah SWT merahmati Imam Bukhari dan mengangkat derajatnya di Syurga bersama para Nabi, syuhada, dan orang-orang soleh lainnya.

" Jika aku disuruh memilih maka aku akan memilih ilmu daripada harta, karena ilmu akan menjaga kita sementara harta, kita yang akan menjaganya"

Baca Juga
Posting Komentar