Unggul Islami Enterpreneurship

OPINI (Mahsyar Idris): Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Ummat Islam

 


Mahsyar Idris

mahsyar@iainpare.ac.id

 

Di tengah hiruk pikut Ummat dipicu perang AS dan Israil vs Iran, komunitas Muslim sering kali dihadapkan pada perdebatan yang tidak produktif di ruang-ruang public yang direduksi menjadi mimbar agama. Salah satu tren tersebut adalah kecenderungan beberapa tokoh agama,ustadz, pendakwah dengan mudah merendahkan kelompok Muslim lain, khususnya Syiah Iran . Tidak jarang pernyataan-pernyataan tersebut sampai menyebut Syiah sebagai "saudara kembar Israel" atau menuduh mereka bukan bagian dari Islam, bukan pengikut nabi, bukan pengikut sunnah, tetapi pengikut Ali. atau  Tidak sama dengan kita (maksudnya sunni). Tetapi beliau tidak mengatakan misalnya:  Wahabi bukan pengikut nabi tetapi pengikut  Abdul Wahab, atau Salafi bukan pengikut nabi tetapi pengikut Salafu saleh.  

Pernyataan-pernyataan tersebut tidak hanya kasar secara retoris tetapi juga bermasalah secara moral dan intelektual. Ketika atas nama keagamaan digunakan untuk memberi label dan mengecualikan kelompok lain dari ajaran Islam, yang terjadi bukanlah pendidikan bagi masyarakat, melainkan reproduksi kebencian. Dalam jangka panjang, cara berpikir ini hanya akan memperdalam perpecahan internal umat Islam.

 

`Sejarah Islam telah memberikan pelajaran yang mahal tentang bahaya konflik di antara umat Muslim. Salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah ini adalah tragedi Karbala pada abad pertama Hijriah. Dalam peristiwa itu, cucu Nabi Muhammad dibunuh secara brutal. Peristiwa Karbala bukan hanya episode politik dalam sejarah Islam, tetapi juga melambangkan dampak buruk dari permusuhan internal yang dibiarkan tanpa terkendali.

Tragedi semacam itu seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menangani perbedaan. Namun, pada kenyataannya, semangat menyesatkan dan menghakimi satu sama lain masih sering muncul, bahkan dari mimbar-mimbar keagamaan. Ketika seorang ustadz atau pendakwah dengan mudah melabeli suatu kelompok tertentu sebagai non-Islam, ia sebenarnya membuka pintu bagi permusuhan yang lebih luas. Yang bisa jadi lebih hebat dan lebih berbahaya dari perang Iran vs Israil.

Masalah identitas keagamaan dalam Islam sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar melabeli suatu aliran pemikiran atau kelompok. Sepanjang sejarahnya, umat Islam selalu mengakui perbedaan pemikiran, baik dalam teologi, yurisprudensi, maupun politik. Perbedaan-perbedaan ini tidak selalu mengarah pada penolakan terhadap keyakinan Islam orang lain. Bahkan, sepanjang banyak fase sejarah, umat Islam mampu hidup dengan beragam pandangan tanpa harus saling menolak. Oleh karena itu, menyederhanakan masalah dengan hanya melabeli suatu kelompok sebagai "keluar dariMuslim" adalah sikap yang tidak mencerminkan kedalaman tradisi intelektual Islam. Lebih jauh lagi, retorika semacam itu berpotensi merusak hubungan sosial dalam masyarakat Muslim yang pluralistik.

 

Saya sendiri bukan seorang Syiah, dan saya tidak memiliki afiliasi dengan aliran pemikiran tersebut. Namun, sebagai sesama Muslim, mereka tetap layak dihormati sebagai bagian dari komunitas Muslim. Perbedaan teologis tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk mencabut identitas Islam seseorang. Jika prinsip ini diabaikan, hampir tidak akan ada ruang untuk keragaman pemikiran dalam Islam.

 

Lebih jauh lagi, kenyataan menunjukkan bahwa banyak praktik keagamaan yang dilakukan oleh komunitas Syiah berakar pada tradisi Islam yang sama: melaksanakan ibadah haji, melaksanakan salat, berpuasa selama Ramadan, dan mempraktikkan berbagai ajaran yang berasal dari Al-Quran dan tradisi Nabi. Fakta-fakta seperti ini seharusnya menjadi dasar untuk pandangan yang lebih seimbang tentang masalah ini, daripada diabaikan untuk memperburuk perbedaan.

Masalah lain yang patut diperhatikan adalah kecenderungan beberapa pemimpin agama untuk merasa memiliki wewenang penuh untuk menghakimi kelompok lain hanya karena latar belakang pendidikan atau gelar akademis mereka. Gelar doktor dari lembaga mana pun, baik dari Timur Tengah, dari Madinah atau dari Mesir atau tempat lain, tidak secara otomatis memberikan hak kepada seseorang untuk menentukan batasan keyakinan orang lain. Pengetahuan seharusnya menumbuhkan kerendahan hati dan kebijaksanaan, bukan kesombongan intelektual.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan umat Islam saat ini bukanlah perselisihan baru di antara mereka sendiri, tetapi kemampuan untuk membangun rasa saling menghormati di tengah perbedaan. Dunia Islam menghadapi tantangan yang jauh lebih besar: tertinggal dalam sains, kemiskinan, konflik politik, dan berbagai tekanan global. Syukurlan Iran dengan gagah berani melawan arogansi kekuasaan global.

 

Dalam situasi seperti itu, meningkatnya konflik internal hanya akan melemahkan komunitas itu sendiri. Para pemimpin agama memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa mimbar-mimbar keagamaan tidak menjadi ruang provokasi. Sebaliknya, mimbar-mimbar tersebut harus menjadi tempat untuk menumbuhkan kebijaksanaan, memperkuat persaudaraan, dan mengingatkan komunitas bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling mengucilkan.

Jika ada satu pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah panjang komunitas Muslim, itu adalah bahwa perpecahan selalu membawa kerugian besar. Oleh karena itu, menjaga kesopanan dalam menghadapi perbedaan bukan hanya keharusan etis tetapi juga kebutuhan mendesak untuk masa depan komunitas Muslim itu sendiri.

Baca Juga
Posting Komentar