Pusdal LH Suma Gelar In House Training Etika Budaya Kerja untuk Penguatan Kompetensi ASN
Mitraindonesia, Makassar-Dalam rangka penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur Sipil Negara (ASN), Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH Suma) menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas berupa In House Training, bertemakan "Etika dalam Budaya Kerja" selama dua hari pada Rabu s.d Kamis, 11 s.d 12 Maret 2026. Bertempat di Ruang Rapat Bangun Praja Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Jalan Perintis Kemerdekaan Km.17 Makassar. Menghadirkan narasumber, Dr, Eddyman W Ferial, M,Si.
Eddyman, sebutan akrabnya adalah dosen senior di Universitas Hasanuddin (Unhas) sejak 1995, staf pengajar Kedokteran Hewan Unhas, serta public speaker dan penyiar TVRI profesional.
Beliau memiliki keahlian di bidang Biologi (ITB) dan Ilmu Kedokteran (Doktor Unhas, 2010), sekaligus pendiri EWF Institute.
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun fondasi etika dan integritas aparatur dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam melaksanakan tugas sehari-hari di unit kerja masing-masing.
Hadir Kasubag T.U, Rina Triany.M, S.E, M.A.P beserta seluruh staf, turut hadir perwakilan dari Bidwil I dan beberapa staf Bidwil II dan Bidwil III. Hadir pula perwakilan staf Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup Kota Makassar.
Pelatihan in-house ini dirancang sebagai peningkatan kapasitas ASN Pusdal LH Suma. Tema "Etika dalam Budaya Kerja" menjadi fokus utama untuk menanamkan nilai-nilai etis dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Acara dibuka secara resmi pada hari pertama, oleh Kasubag Tata Usaha Pusdal LH Suma.
Dalam sambutannya, Rina Triany selaku Kasubag T.U Pusdal LH Suma menekankan bahwa etika kerja merupakan salah satu unsur penting dalam membangun organisasi yang profesional dan dipercaya oleh masyarakat, menurutnya, kompetensi teknis saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan sikap dan prilaku kerja yang menjunjung tinggi integritas.
"Budaya kerja yang baik harus dilandasi oleh nilai-nilai etika, tanggung jawab dan integritas yang tinggi," ujarnya.
Materi Kebijakan Budaya Kerja; Kode Etik dan Disiplin ASN, yang dipaparkan narasumber mencakup prinsip integritas, tanggung jawab, dan budaya kerja yang bersih. Peserta diajak berdiskusi interaktif, studi kasus, dan simulasi untuk menerapkan etika dalam konteks sikap ASN dalam bekerja secara Profesional.
Dalam pemaparannya, Eddyman menjelaskan bahwa etika kerja merupakan bagian penting dari budaya organisasi yang dapat membentuk perilaku serta pola pikir aparatur dalam bekerja.
Ia menekankan bahwa budaya kerja yang baik harus dibangun melalui komitmen bersama, komunikasi yang yang efektif, serta sikap saling menghargai antar pegawai.
"Penerapan etika dalam lingkungan kerja tidak hanya berkaitan dengan aturan formal, tetapi juga menyangkut sikap profesional, integritas pribadi, serta kemampuan ASN dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah," ujar dosen Biologi FMIPA Unhas, yang juga merupakan presenter dan newscaster TVRI, Dr Eddyman W. Ferial SSi MSi CPS ini.
"Dalam sebuah sesi pengarahan strategis, pakar negosiasi menekankan bahwa keberhasilan sebuah kesepakatan tidak hanya diukur dari tercapainya kata sepakat, tetapi dari hasil yang tepat, realistis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun operasional," jelas Eddyman.
Beliau menegaskan bahwa kesalahan umum dalam negosiasi adalah terjebak pada posisi, yaitu tuntutan kaku mengenai "apa" yang diminta.
Menurutnya, fokus berlebih pada posisi sering kali memicu kebuntuan (deadlock). Sebaliknya, negosiator ulung seharusnya menggali kepentingan, yakni alasan mendasar atau "mengapa" permintaan tersebut muncul.
"Dengan mengungkap motivasi, kebutuhan, hingga kekhawatiran pihak lawan, kita membuka peluang untuk solusi kreatif yang saling menguntungkan (win-win solution). Kesepakatan yang didasarkan pada kepentingan bersama akan jauh lebih memuaskan bagi semua pihak," ujarnya.
Lebih lanjut, Eddyman menjelaskan bahwa negosiasi bukan sekadar proses tawar-menawar biasa.
Ia memperkenalkan konsep BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement), atau pilihan terbaik yang tersedia jika kesepakatan gagal tercapai.
Eddyman membeberkan bahwa memahami BATNA membuat negosiator lebih tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan yang merugikan. Alternatif ini menjadi standar untuk menilai apakah hasil negosiasi lebih baik atau justru lebih buruk dari opsi yang sudah ada. Khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), narasumber mengingatkan bahwa setiap alternatif yang diambil tetap harus berpijak pada aturan, prosedur, dan kewenangan institusi yang berlaku.
Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan berbagai materi dan diskusi yang berkaitan dengan nilai-nili etika, budaya kerja organisasi, serta praktif penerapan etika dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi para pegawai untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya membangun lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang berkualitas.
Dengan terselenggaranya In House Training Etika dalam Budaya Kerja ini, Pusdal LH Suma berharap seluruh ASN di lingkungannya dapat semakin meningkatkan komitmen dalam menjalankan tugas secara profesional,transparan, dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat fondasi moral aparatur serta mendorong terciptanya budaya kerja yang positif dan berintegritas dalam mendukung kinerja organisasi.
Melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan, Pusdal LH Suma terus berupaya membangun aparatur yang kompeten, beretikadan siap menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan serta pengendalian lingkungan hidup di wilayah Sulawesi dan Maluku.




