Zahra Zhafirah Ahmad, Mahasiswa Asal Bone, Jadi Bagian dari Raihan Dua Penghargaan Terbaik II di Abdidaya Ormawa 2026
Mitraindonesia, MAKASSAR — Zahra Zhafirah Ahmad, mahasiswa Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Universitas Negeri Makassar (UNM), asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi bagian dari tim yang meraih dua penghargaan Terbaik II pada Abdidaya Ormawa 2026. Zahra yang menjabat sebagai Sekretaris Tim Pelaksana PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM turut menjadi bagian dari perjalanan program pemberdayaan masyarakat SIPAKATAU di Desa Beroanging, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto. Ajang tersebut diselenggarakan di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, pada 21–25 Oktober 2026.
Dua penghargaan yang diraih tim dan mitra tersebut meliputi Terbaik II Tim Pelaksana Kategori Tim dengan Partisipasi Masyarakat Tertinggi dan Terbaik II Mitra dengan Dukungan Keberlanjutan Paling Strategis. Capaian ini menjadi pengakuan atas upaya pengabdian yang melibatkan masyarakat sekaligus menempatkan keberlanjutan program sebagai bagian penting dari proses pemberdayaan.
Bagi Zahra, keterlibatannya sebagai sekretaris tim pelaksana menjadi bagian dari pengalaman menghubungkan kehidupan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Sebagai mahasiswa Gizi, ia berada dalam lingkungan keilmuan yang tidak hanya mempelajari kebutuhan zat gizi dan kesehatan individu, tetapi juga pendekatan edukasi serta pemberdayaan masyarakat untuk mendukung perilaku hidup sehat.
PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM menjalankan program SIPAKATAU sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di Desa Beroanging. Program ini mengintegrasikan edukasi kesehatan, penguatan kapasitas kader, pemanfaatan potensi lokal, dan dukungan teknologi untuk mendorong masyarakat berperan aktif dalam upaya membangun desa yang lebih sehat dan mandiri.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai bagian dari proses pelaksanaan program. Edukasi kesehatan dan penguatan kader menjadi penting agar pengetahuan yang dibagikan dapat diterapkan sesuai kebutuhan warga. Sementara itu, pemanfaatan potensi lokal dan dukungan teknologi diarahkan untuk menunjang pelaksanaan program secara lebih terorganisasi.
Latar belakang akademik Zahra di bidang Gizi memiliki relevansi dengan pendekatan tersebut. Pengetahuan tentang gizi dan kesehatan masyarakat dapat menjadi bekal dalam memahami persoalan kesehatan di tingkat komunitas, menyampaikan edukasi yang sesuai, serta mendukung upaya peningkatan kapasitas masyarakat. Pengalaman pengabdian juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami bahwa penerapan ilmu membutuhkan kerja sama, penyesuaian terhadap kondisi lapangan, dan keterlibatan berbagai pihak.
Sebagai Sekretaris Tim Pelaksana, Zahra menjalankan peran dalam struktur organisasi PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM. Peran dan tanggung jawab spesifiknya selama program menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana proses pengabdian dijalankan secara kolektif. Dalam pelaksanaannya, capaian program tidak berdiri pada kontribusi satu orang, tetapi terbentuk melalui kerja tim, partisipasi masyarakat, dan dukungan mitra.
Penghargaan pada kategori partisipasi masyarakat dan dukungan keberlanjutan menyoroti dua aspek penting dalam pengabdian mahasiswa. Pelibatan warga menjadi bagian dari proses pemberdayaan, sedangkan dukungan mitra dibutuhkan agar program memiliki peluang untuk diteruskan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir. Keberlanjutan tersebut memerlukan komitmen bersama, penguatan kapasitas masyarakat, serta penyesuaian program dengan kebutuhan dan kemampuan setempat.
Keterlibatan Zahra dalam tim yang memperoleh pengakuan pada Abdidaya Ormawa 2026 juga menjadi bagian dari kiprah mahasiswa asal Kabupaten Bone dalam kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat. Pengalaman tersebut memperlihatkan ruang kontribusi mahasiswa untuk membawa pengetahuan dari perguruan tinggi ke tengah masyarakat sekaligus belajar dari persoalan nyata di lapangan.
Dua penghargaan yang diraih menjadi capaian bersama tim pelaksana dan mitra. Lebih dari pengakuan kompetisi, perjalanan program SIPAKATAU mengingatkan bahwa pengabdian masyarakat membutuhkan proses yang partisipatif, kolaborasi lintas pihak, dan komitmen untuk menjaga keberlanjutan manfaat. Bagi mahasiswa, capaian ini menjadi bagian dari proses belajar dan mengabdi; bagi masyarakat, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada upaya bersama untuk melanjutkan program sesuai kebutuhan desa.



