Di Balik Retaknya Lantai Sanggar Desa Tampo, Ada Harapan Masyarakat yang Terabaikan
Oleh: Wawan Wahyudi
Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Desa Tampo (HPMDT)
Sanggar Kegiatan Desa Tampo selama ini menjadi salah satu fasilitas publik yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas sosial dan kemasyarakatan berlangsung di tempat ini, mulai dari kegiatan Posyandu, pertemuan warga, pelatihan, hingga layanan perpustakaan desa. Sanggar ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang bersama yang menjadi pusat interaksi dan pemberdayaan masyarakat.
Namun, sangat disayangkan, bangunan yang telah berdiri selama puluhan tahun tersebut hingga kini belum mendapatkan perhatian serius dari pihak terkait. Kondisi fisiknya semakin memprihatinkan. Lantai yang retak, tiang bangunan yang mulai lapuk, serta berbagai fasilitas pendukung yang tidak lagi memadai menjadi bukti bahwa sanggar kegiatan desa sudah lama tidak tersentuh perbaikan maupun renovasi.
Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa Sanggar Kegiatan Desa Tampo seolah terlupakan dan tidak menjadi prioritas pembangunan?
Sebagai perwakilan pemuda dan masyarakat Desa Tampo, kami menilai sudah saatnya keberadaan sanggar kegiatan desa mendapat perhatian bersama. Pemerintah desa, pemerintah daerah, maupun pihak-pihak terkait perlu melihat bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang pembangunan jalan, drainase, atau bangunan administratif. Lebih dari itu, pembangunan juga harus menyentuh aspek pengembangan sumber daya manusia melalui penyediaan ruang pembinaan masyarakat dan generasi muda.
Sanggar kegiatan desa memiliki fungsi yang sangat strategis. Dari tempat inilah lahir berbagai diskusi, kegiatan sosial, pelatihan, hingga program-program pemberdayaan masyarakat. Bahkan, fasilitas Posyandu dan perpustakaan desa turut beroperasi di lokasi yang sama. Dengan kata lain, sanggar ini menjadi salah satu jantung aktivitas sosial masyarakat Desa Tampo.
Ketika fasilitas publik seperti ini dibiarkan mengalami kerusakan secara perlahan, muncul kesan bahwa ruang publik dan fasilitas kepemudaan belum menjadi fokus utama dalam pembangunan desa. Padahal, tempat seperti inilah yang seharusnya menjadi wadah tumbuhnya kreativitas, partisipasi, dan pengembangan potensi masyarakat.
Banyak pemuda Desa Tampo mempertanyakan mengapa selama lebih dari dua dekade belum ada langkah nyata untuk melakukan renovasi atau rehabilitasi bangunan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menjadi bahan diskusi dan perbincangan di tengah masyarakat.
Perlu ditegaskan bahwa masyarakat Desa Tampo tidak menuntut fasilitas yang mewah atau bangunan yang megah. Yang kami harapkan hanyalah perhatian dan kepedulian terhadap fasilitas umum yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, kami berharap pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Enrekang, serta pihak-pihak terkait dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi Sanggar Kegiatan Desa Tampo. Keberadaan fasilitas yang layak bukan hanya mendukung aktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi sarana penting dalam mendorong partisipasi, pemberdayaan, dan pembangunan sumber daya manusia di desa.
Retaknya lantai dan lapuknya tiang sanggar bukan sekadar persoalan bangunan tua. Di balik kerusakan itu tersimpan harapan masyarakat yang menunggu untuk didengar dan diperjuangkan. Sudah saatnya harapan tersebut mendapat jawaban melalui langkah nyata, bukan sekadar janji.
Wawan Wahyudi
Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Desa Tampo (HPMDT)




