Unggul Islami Enterpreneurship

Menjaga Yang Liar: Pelajaran Kesadaran dari Rimbunnya Hutan Karaenta



"Jangan beri arah pada orang buta."

Mitraindonesia, Maros-Kalimat itu terus berulang dan bergema di benak Sri Mulyani T. saat melangkah menyusuri keteduhan Hutan Karaenta, kawasan konservasi dalam naungan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 

Bagi mahasiswa magang Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar ini, ungkapan tersebut memiliki makna mendalam. Ini bukan tentang keterbatasan fisik, melainkan metafora bagi mereka yang sejatinya sudah tahu aturan, namun memilih pura-pura buta dan mengabaikannya.

Gadis asal Pinrang kelahiran 2005 tersebut menyaksikan langsung fenomena riskan yang kerap terjadi di sepanjang jalur Hutan Karaenta: kebiasaan pengunjung memberi makanan kepada monyet dare (Macaca maura), satwa endemik yang hidup bebas di sana.

Padahal, Imbauan demi imbauan telah digalakkan, papan peringatan berdiri kokoh, hingga teguran langsung sering dilayangkan. Namun, kebiasaan destruktif itu terus saja berulang. Bagi Sri, persoalannya tidak sekadar sepotong roti atau pisang yang dilempar dari kaca mobil, melainkan rantai ekologi yang perlahan rusak. Saat monyet dare terbiasa menerima asupan dari manusia, insting alaminya terkikis. Mereka kehilangan kewaspadaan, mulai mengandalkan manusia, hingga menganggap tepi jalan raya sebagai tempat berburu makanan utama.

Keresahan ini tidak berhenti sebagai wacana. Pada 13 Agustus 2026, Sri bersama empat rekan mahasiswa magang turun langsung ke lapangan. Didampingi Aswadi Hamid dari Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca, mereka melakukan praktik monitoring sekaligus mengedukasi para pengguna jalan. Hari itu, sedikitnya empat kendaraan yang menepi ditegur secara persuasif karena berpotensi melakukan interaksi tidak semestinya dengan kawanan monyet.


Langkah tersebut diambil bukan atas dasar kebencian kepada pengunjung, melainkan bentuk ajakan untuk saling menghargai. Hutan memiliki hukum dan keseimbangannya sendiri; monyet dare memiliki ruang hidupnya, dan manusia hanyalah tamu yang sepatutnya bersikap santun.

“Jika mereka sudah tahu tidak boleh memberi makan tetapi tetap melakukannya, persoalannya bukan lagi kurangnya informasi, melainkan kesadaran yang belum tumbuh,” ungkap Sri.

Perjalanan di Hutan Karaenta memberikan pelajaran berharga: kasih sayang kepada alam tidak selalu diwujudkan dengan memberi. Bentuk kepedulian tertinggi kerap kali hadir dalam ketidakhadiran kita dengan tidak menyentuh, tidak memanggil, tidak memberi makan, serta membiarkan mereka tetap liar. Satwa liar tidak butuh dijinakkan; mereka hanya butuh manusia menghormati batas kehidupan mereka.

Dari rimbunnya Karaenta, pesan itu kembali membekas: Jangan beri arah pada orang buta. Jangan membiasakan satwa liar bergantung pada arah dan belas kasihan manusia. Biarkan mereka menemukan arah hidupnya sendiri di alam bebas. Sebab, saat kita berhenti memberi makan, di situlah kita baru benar-benar belajar menghargai alam.


Citizen report: Aswadi Hamid, S.P.

Baca Juga
Posting Komentar