Unggul Islami Enterpreneurship

Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca Dampingi Mahasiswa Biologi UINAM Praktik Monitoring Monyet Dare di Hutan Karaenta


Mitraindonesia, Maros--Hutan Karaenta, Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, menjadi ruang belajar langsung bagi lima mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Selama tiga hari, 12–14 Agustus 2026, mahasiswa semester IV dari angkatan Brachium mengikuti praktikum monitoring populasi Macaca maura atau yang dikenal masyarakat sebagai monyet dare'. 

Satwa endemik Sulawesi ini merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia dan berstatus terancam punah (Endangered/EN) berdasarkan IUCN Red List.

Kegiatan ini didampingi Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca, yaitu Kama Jaya Shagir, Aswadi Hamid, dan Syamsuddin. Praktikum dirancang untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengenali habitat, mengamati populasi, serta memahami perilaku satwa liar secara langsung di habitat alaminya.

Pada hari pertama, mahasiswa mendapatkan pengenalan mengenai habitat Macaca maura di Hutan Karaenta. Mereka mempelajari karakteristik lingkungan yang menjadi ruang hidup satwa endemik Sulawesi tersebut, termasuk berbagai kondisi yang dapat memengaruhi perilaku dan keberadaannya.

Memasuki hari kedua, mahasiswa melakukan monitoring populasi terhadap tujuh kelompok Macaca maura. Pengamatan lapangan memberikan pengalaman berbeda dari pembelajaran di dalam kelas. Mahasiswa dapat melihat secara langsung keberadaan satwa, mengamati perilakunya, sekaligus memahami tantangan konservasi yang dihadapi di lapangan.

Salah satu perhatian utama mahasiswa adalah kebiasaan sebagian Macaca maura mendatangi kawasan jalan dan menunggu makanan dari pengendara. satwa dilindungi dan terancam punah seperti Macaca maura bukan untuk diberi makan atau didekati secara sembarangan, melainkan untuk dijaga agar tetap hidup secara alami di habitatnya.

A. Fathimah Az Zahra Birrulwalidain mengaku senang dapat melihat banyak individu secara langsung, tetapi kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa pemberian makanan oleh manusia dapat memengaruhi perilaku alami satwa.

Hal senada disampaikan St. Khadija. Menurutnya, melihat Macaca maura secara langsung merupakan pengalaman berkesan, tetapi kebiasaan satwa menunggu makanan di pinggir jalan perlu menjadi perhatian. “Menjaga Macaca maura berarti membiarkannya tetap hidup secara alami,” menjadi pesan penting dari pengalaman monitoring tersebut.


Waode Dwi Sekar Lestari juga menilai kegiatan ini meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga hutan sebagai habitat dan sumber makanan utama satwa liar. Ia menekankan bahwa tidak memberi makan satwa liar merupakan bagian penting dari upaya menjaga perilaku alami sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit antara manusia dan satwa.

Sementara itu, Sri Mulyani T mengaku kagum dapat menjumpai Macaca maura dalam jumlah cukup banyak di habitat alaminya. Namun, ia prihatin melihat beberapa individu berada di pinggir jalan dan meminta makanan kepada pengendara. Bahkan, ia sempat mengingatkan pengendara agar tidak memberikan makanan kepada satwa.

Pengalaman serupa dirasakan Nadila Fauziatul Ulya. Baginya, monitoring bukan hanya memberikan pengalaman melihat satwa secara langsung, tetapi juga pelajaran penting bahwa menjaga satwa berarti memberikan ruang bagi mereka untuk mencari makanan dan menjalani kehidupan secara alami.

Hari ketiga diisi dengan review dan evaluasi. Mahasiswa bersama pendamping membahas hasil pengamatan, pengalaman lapangan, serta berbagai temuan yang diperoleh selama monitoring.

Kegiatan ini menjadi contoh pembelajaran konservasi yang mempertemukan teori dengan praktik. Selain meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam monitoring satwa liar, kegiatan tersebut juga menanamkan pesan sederhana namun penting: satwa liar bukan untuk diberi makan, melainkan untuk dijaga agar tetap hidup secara alami di habitatnya.

Dengan pengalaman langsung di Hutan Karaenta, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami Macaca maura sebagai objek pembelajaran biologi, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian satwa dilindungi, satwa terancam punah, serta ekosistem hutan Sulawesi. 

Upaya menjaga habitat, tidak memberikan makanan, dan memahami perilaku alami satwa menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran konservasi di tengah masyarakat. 


Citizen report : Aswadi Hamid, S.P.

Baca Juga
Posting Komentar