BMKG: Modifikasi Cuaca Terbukti Padamkan Titik Api dan Basahi Gambut di Kalbar
Mitraindonesia, Kalbar— Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar di Kalimantan Barat (Kalbar) sukses menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Intervensi teknologi atmosfer yang dipandu data analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut terbukti memicu hujan, membasahi ekosistem gambut, dan menipiskan kabut asap di sejumlah wilayah rawan.
Penyemaian awan mengandalkan pemantauan dinamika atmosfer secara real-time, mulai dari pergerakan massa awan, arah angin, hingga kelembapan udara. Langkah ini dilakukan agar proses penyebaran garam murni di udara tepat sasaran.
"Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," kata Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu 5 September 2026.
Seto menegaskan keberhasilan OMC bergantung pada keakuratan pasokan data cuaca. BMKG bertugas mengoptimalkan setiap potensi awan agar tim udara dapat menyemai garam secara presisi demi mempercepat pengendalian karhutla.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa data radar cuaca BMKG menjadi panduan utama armada udara gabungan yang dikendalikan dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya.
OMC di Kalbar yang didanai Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) ini berlangsung pada 22 Agustus hingga 4 September 2026.
"Petugas menerbangkan 27 sorti penerbangan dengan total bahan semai 24.600 kilogram garam murni (Natrium Klorida/NaCl). Penyemaian dilakukan pada ketinggian 6.000 hingga 10.000 kaki untuk menembus awan potensial," jelas Budi.
Hasilnya, curah hujan terpantau mengguyur sejumlah lokasi pada Jumat (4/9/2026), di antaranya Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kota Pontianak. Guyuran hujan ini berhasil meningkatkan kelembapan tanah gambut, mendinginkan area terdampak, menipiskan kabut asap, serta menekan kemunculan titik api baru.
Diperpanjang hingga 14 September
Selain Kalbar, pemerintah menggelar OMC di Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 26 Agustus hingga 5 September 2026. Operasi di Kalteng mencatatkan 10 sorti penerbangan dengan menyebar 8.000 kg NaCl. Hujan intensitas ringan hingga sedang teramati di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.
Melihat efektivitas hasil di lapangan, pemerintah resmi memperpanjang pelaksanaan OMC di Kalbar dan Kalteng mulai 5 hingga 14 September 2026 dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan BNPB.
Seto menambahkan, integrasi analisis cuaca dalam OMC menandai pergeseran paradigma tata kelola bencana ekologis di Indonesia. Pemerintah kini mengedepankan tindakan pencegahan dini yang terukur dibanding respons reaktif saat api sudah membesar.
Pelaksanaan OMC ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga, meliputi BMKG, KLH/BPLH, BNPB, TNI Angkatan Udara, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah setempat.



